Pangeran Luwak dan Prajurit Kopi

Cerita pendek ini memenangkan perlombaan fiksi dengan tema kopi yang diselenggarakan oleh Giordano dan nulisbuku.com

Kutarik selimutku sampai ke dagu, memejamkan mata erat-erat, lalu berpura-pura tidur. Hari ini hari Kamis, dan Ibu sebentar lagi datang ke kamarku untuk menceritakan cerita hantu. Aku suka cerita hantu.

Aku menarik napas perlahan sambil mempertahankan posisiku. Begitu Ibu masuk, aku akan mengagetkannya. Kali ini giliranku yang membuat Ibu kaget. Aku terkikik pelan, namun aku teringat sesuatu. Ibu biasanya membawakanku secangkir susu cokelat hangat dan kue bolu manis kesukaanku. Nanti kalau Ibu kaget, semuanya jatuh lalu berantakan. Bukan ide yang bagus.

Dalam sekejap kubatalkan rencanaku itu dan memutuskan akan langsung memeluk Ibu setelah ia selesai meletakkan susu dan kue di atas meja belajar. Aku tersenyum senang, namun suara langkah kaki Ibu membuatku langsung mengatupkan mulut rapat-rapat.

Kudengar pintu kamarku perlahan terbuka, pertanda sebentar lagi susu cokelat hangat kesukaanku akan segera datang. Tapi ada yang aneh. Bukan aroma susu cokelat hangat yang menyerbu hidungku, namun justru wangi kopi kegemaran Ibu.

Aku ingin sekali membuka mata, namun aku tetap menunggu Ibu mengecup keningku, sesuatu yang selalu ia lakukan setiap kali ia akan memulai cerita. Aroma kopi itu bertahan di sebelahku, namun Ibu tidak juga mencium dahiku. Aku tak dapat menahan diri dan akhirnya kubuka mataku pelan-pelan. Tidak ada Ibu. Hanya ada anak-anak kecil yang tidak kukenal. Aku menahan napas.

“Dia bangun,” bisik seseorang. Suara anak laki-laki.

“Benarkah?” tanya seorang anak perempuan.

Aku merasakan aroma kopi yang sangat tajam memenuhi seluruh hidungku dan akhirnya aku bersin.

“Gayo! Apa yang kamu lakukan?” pekik anak perempuan di sebelahnya.

“Aku hanya ingin menepuk bahunya!” balas Gayo sengit.

Aku membuka mata lebar-lebar. Gayo, anak laki-laki di dekatku menatapku ketakutan. Kamarku semakin dipenuhi bau kopi pekat yang disukai ibuku. Di mana Ibu?

“Wamena, aku tidak bermaksud membangunkannya! A-aku-“ Gayo terbata-bata, sementara Wamena, anak perempuan di sebelahnya, ternganga.

“Toraja! Lihat, ia su-“ bisik Wamena. Ia terdengar antusias dan aku dapat mencium sedikit aroma cokelat yang terpancar darinya.

“Iya, aku tahu,” potong Toraja yang berdiri di belakang Wamena. Ia langsung menggeser Wamena dan memelototiku. Anak laki-laki yang ini beraroma seperti rempah-rempah dapur yang sering dipakai ibuku untuk memasak. Aku membuka mulut untuk berbicara, namun langsung terbatuk-batuk.

“Kalian semua membuatnya takut,” seorang anak perempuan lain langsung maju ke hadapanku. “Jadi begini, Kintamani, kami-“

Kepalaku pusing.

“…mengerti?” tanya anak perempuan dengan wangi kopi manis di depanku.

“Apa?” tanyaku bingung.

“Sudahlah, Bajawa. Dia pasti bingung,” sahut Wamena.

“Oke, begini. Aku ulangi sekali lagi. Kami Prajurit Kopi dari Negeri Nusantara. Kami ingin meminta bantuanmu untuk mencari pangeran kami, Luwak. Ia menghilang sejak tadi pagi. Negeri kami akan hancur jika Pangeran Luwak tidak menggunakan kekuatannya untuk menopang negeri kami. Lihat, kami juga sudah meminta izin dari ibumu. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” ucap Bajawa. Ia menyodorkan secarik kertas berisi tulisan yang mirip sekali dengan tulisan Ibu.

Kintamani sayang, tolong bantu para Prajurit Kopi mencari Pangeran Luwak, ya. Ingatlah, hanya kamu yang tahu di mana Pangeran Luwak berada. Kalau kamu berhasil membantu mereka, Ibu punya kue taart cokelat untuk kamu. Peluk cium, Ibu.

Aku langsung terduduk di pinggir tempat tidurku. Para Prajurit Kopi di dekatku langsung berhamburan namun segera mengatur posisi dan membentuk barisan rapi.

“Dia pasti tahu sesuatu,” bisik Toraja.

“Apakah kamu mengenal Pangeran Luwak?” tanya Wamena hati-hati.

Luwak. Ya, aku tahu Luwak. Tetapi mengapa aku sulit mengingatnya?

“Aku… sepertinya aku tahu. Tapi…” Pelipisku berdenyut.

Bajawa sudah nyaris mengeluarkan suara namun dipotong oleh Wamena. “Sebentar. Beri ia waktu untuk mengingat-ingat.”

“Tapi Jenderal Mandheling hanya memberikan kita waktu enam puluh menit di sini!” ucap Gayo panik. “Sekarang hanya tersisa empat puluh lima menit!”

Aku teringat Ibu. Saat itu ia memberikan hadiah ulang tahun untuk Ayah. Biji-biji kopi. Ayah tertawa lebar dan langsung mengajakku menggiling kopi bersamanya di dapur. Ini kopi Luwak, kata Ayah sambil tersenyum.

“Kintamani, apakah kamu mengetahui sesua-“ Kata-kata Bajawa terputus.

“Di dapur!” jeritku sambil melompat dari tempat tidur dan setengah berlari menuju pintu kamar. Barisan Prajurit Kopi mengekorku dengan sigap.

Kami segera menuju mesin kopi besar yang selalu dipakai oleh orang tuaku. Di sebelahnya tersimpan rapi wadah berisi biji-biji kopi yang setiap pagi diolah oleh Ibu.

“Hei, lihat, aku terkenal di sini,” ucap Gayo bangga. Ia menunjuk wadah biji kopi bertuliskan “GAYO” yang lebih besar dari wadah-wadah lainnya. Label nama kopi tersebut sudah separuh hilang karena terlalu sering dibersihkan oleh Ibu. Ibu memang paling menyukai kopi Gayo.

“Ini bukan saatnya pamer, Gayo!” desis Toraja kesal. Namun kulihat matanya memelototi wadah biji kopi bertuliskan “ SULAWESI TORAJA” di ujung meja. Ia juga menggumamkan kata-kata ‘Hormat, Jenderal’ saat ia melihat wadah biji kopi bertuliskan “SUMATRA MANDHELING”.

Bajawa sibuk membaca wadah-wadah biji kopi satu per satu. Ia tersenyum senang saat menemukan wadah biji kopi bernama “FLORES BAJAWA” di sebelah “PAPUA WAMENA”.

Wamena terkesiap. “Bagaimana ini…” ucapnya lirih. Ia menggenggam wadah biji kopi berukuran kecil dengan tulisan “LUWAK” yang sudah kosong.

Bajawa langsung menyambar wadah itu, membukanya lalu berusaha mengais isinya dengan sekuat tenaga hingga di pojok wadah. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak tersisa satu petunjuk pun.”

Gayo cemas. Wamena berpikir keras. Toraja masih mencari-cari wadah biji kopi lain.

“Mungkin kamu punya petunjuk lain, Kintamani?” tanya Bajawa. Waktu mereka sepertinya tersisa kurang dari tiga puluh menit.

Aku duduk di kursi ruang makan sambil mencoba mengingat-ingat tentang Luwak. Aku ingat kalau Ibu bilang Luwak itu hanya untuk acara spesial. Biji kopi Luwak untuk merayakan ulang tahun Ayah. Ke perkebunan kopi Luwak untuk merayakan ulang tahun Ibu.

Ibu juga punya Luwak untuk Kintamani, bisik Ibu.

Ibu, aku kan belum boleh minum kopi, kataku.

Ibu tersenyum. Tunggu ulang tahunmu ya. Ibu akan berikan Luwak untukmu.

Aku beranjak dari dapur menuju sofa di depan TV besar milik Ayah. Tempat Ibu memberikan hadiah ulang tahun untukku. Para Prajurit Kopi mengikutiku dengan penuh rasa ingin tahu.

Aku berputar-putar di depan TV sampai akhirnya aku melihat ruang kerja Ibu yang berisi mesin jahit. Di sekelilingnya penuh kain warna-warni dengan pakaian-pakaian indah dan boneka-boneka lucu.

Ini, Luwak untuk Kintamani. Ibu tertawa riang saat aku meloncat-loncat kegirangan dan merebut Luwak dari tangan Ibu lalu memeluk boneka itu erat-erat.

Aku membalikkan badan menghadap para Prajurit Kopi seraya mengucapkan pengumuman penting.

“Aku sudah tahu Luwak ada di mana,” kataku mantap.

Para Prajurit Kopi langsung ribut dan memintaku untuk segera mengantarkan mereka ke tempat Luwak berada. Waktu mereka tinggal lima belas menit. Aku memberikan aba-aba agar mereka mengikuti dan mereka membuntutiku dengan patuh.

Ibu… Luwak jadi kotor… Maaf. Aku berkata lirih sambil menyodorkan Luwak yang terkena tumpahan susu cokelat tadi pagi. Ibu hanya tersenyum saat aku berusaha menjelaskan kejadian yang menimpa Luwak.

Lain kali hati-hati ya. Kalau lagi minum, Luwak ditaruh dulu. Ibu memberikan nasihat sambil mengambil Luwak malang yang kini basah dan lengket dari tanganku.

Aku sedang menuju ruang cuci baju ketika tiba-tiba para Prajurit Kopi berlutut. “Hormat, Yang Mulia.” Dengan serempak mereka mengucapkan salam.

Aku membalikkan badan dan melihat seorang anak laki-laki gagah dengan pakaian megah berwarna hitam dan cokelat. Ia memancarkan aroma kopi paling sedap yang pernah kutahu.

“Toraja! Wamena! Bajawa! Gayo!” teriak Pangeran Luwak. Air mukanya cerah sekali. Para Prajurit Kopi menatapnya senang. “Aku pikir aku tersesat.” Ia langsung memeluk para Prajurit Kopi satu per satu. “Aku sedang mencari Jenderal Mandheling ketika aku terpeleset lalu tercebur di Danau Susu Cokelat. Entah mengapa aku tenggelam dan tiba-tiba muncul di tempat ini. Untung saja aku menemukan mesin untuk membersihkan diri.” Pangeran Luwak menunjuk ke arah mesin cuci milikku. Aku melongo.

“Ah! Kintamani! Terima kasih untuk ibumu yang sudah meminjamkan mesin itu untukku. Kamu juga sudah menolong para Prajurit Kopi untuk menemukanku. Atas nama Negeri Nusantara, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.” Ia membungkuk sopan. Para Prajurit Kopi juga membungkuk dalam-dalam.

Pangeran Luwak lalu memberiku segenggam penuh biji kopi. Aku ragu menerimanya. Ibu pernah menceritakan kepadaku dari mana biji kopi Luwak berasal. Mukaku mengerut dan Pangeran Luwak tertawa terbahak-bahak. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Kintamani. Tenang saja, ini biji kopi yang kutanam sendiri di kebunku. Anggap saja ini biji kopi Luwak ajaib.”

Aku pun menerima hadiah darinya dengan riang gembira. Ibu pasti senang menerima biji kopi ajaib.

“Ayo, kita pulang,” ajak Bajawa. “Waktu kita tinggal lima menit.”

Aku, Pangeran Luwak dan Prajurit Kopi pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarku.

“Bagaimana cara kalian kembali ke Negeri Nusantara?” tanyaku setelah duduk di tempat tidur.

“Sama seperti saat kamu melihat kami datang,” jawab Wamena. “Berbaringlah dan pejamkan mata erat-erat.”

“Baiklah.” Aku menuruti kata-kata Wamena dan mulai berbaring. Aku sedang menutup mata saat aku menyadari sesuatu. Mataku langsung terbuka lebar dan memandangi mereka. “Tapi aku masih bisa bertemu kalian lagi, kan?”

“Tentu saja, Kintamani. Selama ada kopi di dekatmu, kami selalu dapat bermain denganmu.” Pangeran Luwak mengecup pipiku. Aku tersipu dan langsung memejamkan mata erat-erat.

“Sampai bertemu lagi, Kintamani!” Pangeran Luwak dan para Prajurit Kopi pun mengucapkan salam perpisahan.

“Sampai bertemu lagi, Pangeran Luwak, Gayo, Wamena, Toraja, Bajawa!” balasku dengan mata tetap tertutup rapat. Aroma kopi yang harum semerbak pun langsung memenuhi kamarku. Aku tersenyum.

Aku membuka mata ketika seseorang mengecup keningku.

“Ibu?” tanyaku bingung. Tidak ada Pangeran Luwak. Tidak ada Prajurit Kopi.

“Ada apa, Kintamani?” tanya Ibu sambil menyodorkan mok berisi susu cokelat hangat dan menyuapkan kue taart cokelat untukku.

“Aku mimpi kopi,” jawabku pendek sambil mengunyah kue lezat buatan Ibu.

Ibu tersenyum lembut sambil memberikan boneka Luwak yang sudah dicuci bersih. “Kamu pasti sedih karena tadi Luwak kotor terkena susu cokelat.”

Aku langsung memeluk Luwak erat-erat. “Sekarang Pangeran Luwak sudah bersih dan ia bersama Prajurit Kopi sudah pulang dengan selamat ke Negeri Nusantara.”

Ibu mengernyitkan keningnya namun tetap tersenyum. Ia mengambil cangkir kopi miliknya. Aroma yang kini sangat kukenal memenuhi hidungku.

“Ibu, Gayo bangga sekali ketika ia tahu Ibu paling suka kopi Gayo,” kataku.

“Wah, kamu tahu ini kopi Gayo?” Ibu tertawa.

“Iya, harumnya sama seperti temanku si Prajurit Kopi bernama Gayo.” Kuceritakan mimpiku secara lengkap dan terperinci. Ibu tak henti-hentinya tersenyum, kemudian terperangah saat aku mengeja nama-nama kopi Negeri Nusantara, lalu tergelak saat kukatakan aku menemukan Pangeran Luwak di dekat mesin cuci.

Aku yang mulai terlelap sudah tidak mendengar lagi kata-kata Ibu ketika ia menceritakan tentang biji-biji kopi lainnya. Di tengah hangatnya aroma kopi Gayo, aku hanya ingat saat Ibu membetulkan posisi Luwak di pelukanku, membisikkan selamat tidur, lalu terlihat sedikit bingung ketika kuberikan segenggam biji kopi ajaib untuknya.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

 

Advertisements

2 thoughts on “Pangeran Luwak dan Prajurit Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s