Seperti Daun Yang Terjatuh

Muse: UA – Senko. Ryuichi Sakamoto – Amore.

Ada sebuah pohon besar di halaman rumahku.

Tempat kesukaanku untuk menikmati birunya malam dan jingganya siang.

Teduh untuk menjagaku dari pijaran matahari, hangat untuk melindungiku dari kepungan gelap.

Daunnya seringkali berjatuhan tanpa mengenal musim.

Tak pernah ia meranggas, namun tak pernah pula ia berhenti melayukan daun-daunnya.

Satu demi satu.

Masa demi masa.

Satu demi satu pula kupungut daun-daun yang berjatuhan itu.

Lalu aku menatap. Mengingat.

Berapa lama mereka berada di pohonku untuk menantang mentari dan bertegur sapa dengan bulan?

Seberapa manis mereka tatkala aku tertawa riang lalu tertidur pulas setelah puas bercerita mengenai keseharianku yang penuh bahagia?

Seberapa tangguh mereka untuk memutuskan bertahan di sana, meredam amarahku yang kerap kulampiaskan dengan menyakiti batang kokoh pohonku; namun terus berayun lembut untuk menghiburku?

Ada yang hanya bertahan sebatas satu siklus purnama, namun tebal dan kuat sampai-sampai aku ingat betul bentuk dan posisinya di pohonku.

Ada yang nyaris kekal, namun berlubang, tipis dan rapuh sampai-sampai aku baru ingat ia pernah ada di pohonku.

Kemudian aku menimang. Menentukan.

Semestinya, yang kuat akan kukekalkan dan kubawa ke dalam kamarku untuk menemaniku seumur hidup, meski ia telah layu.

Seharusnya, yang rapuh akan kusapu dan kubakar hingga berasap dan mengabu dari ingatanku.

Namun kemudian, biarlah mereka semua kembali ke tanah seutuhnya, terurai sesuai kehendak waktu, apa adanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s