Kopi Tubruk

–pesanan khusus dari @momo_DM

Kopi.

Kamu benci kopi.

Apalagi kopi tubruk.

Kopi abang-abang tukang nongkrong di pojok sambil ngerokok. Jorok.

Kamu memandangi cangkir putih berisi cairan hitam yang mengepulkan asap abu-abu itu.

Kagum terhadap usahanya untuk tampil jinak tanpa dosa.

Tapi melihatnya tersaji dalam rupa monokromatis yang selalu kamu puja, rasa bersalah mulai merayapi dirimu karena menganggapnya kopi kelas kampung.

Kamu menarik napas dalam-dalam, seolah bersiap menutup hidung lalu menceburkan diri ke dalam cangkir itu.

Tapi yang bisa kamu lakukan hanyalah mencemplungkan pandanganmu dan membiarkannya timbul tenggelam, memaksamu mengais sedikit bijak yang mungkin masih mengendap.

Ada berapa falsafah yang bisa kamu tarik dari secangkir kopi tubruk?

Mendadak kamu sudah menggandeng seluruh pancaindramu untuk membuka Diskusi Kopi Tubruk.

Mencoba menelaah sebuah materi yang sebagian jelas kamu benci, sebagian lagi entah kenapa kamu puji.

Kebencianmu terhadap aromanya, rasanya, namanya.

Ketakjubanmu terhadap pekatnya, efeknya, popularitasnya.

Sebuah hitam yang tertampung dalam putih yang kemudian menguapkan kelabu.

Di hadapanmu, cangkir itu mulai mengambil wujud mahaguru yang mengajarimu tentang energi.

Padatnya cangkir, cairnya kopi dan gas aroma yang telah mufakat untuk menyebut dirinya Kopi Tubruk.

Putih pertanda ia tak berbahaya, sekaligus hitam pertanda ia bisa berbahaya.

Kamu tertawa, menyadari pikiranmu mengelabu akibat menghirup si kopi tubruk.

Kopi tubruk itu sangat hitam di depan matamu.

Tapi ia bukan cuma hitam.

Ia hitam justru karena ada putih dan kelabu yang menemaninya.

Kamu menggosok-gosok kedua matamu, menolak dikuasai oleh ‘cuma hitam‘-nya kopi tubruk.

Ada Putih. Ada Kelabu. Hitam tidak sendiri.

Kenapa kamu hanya memilih untuk selalu melihat Hitam?

Akhirnya kamu mengambil cangkir itu, menenggak habis Sang Mahaguru yang masih asyik mendemonstrasikan hukum kekekalan energi.

Kamu pamit, terkejut ketika hanya perlu membayar tiga ribu perak untuk secangkir semesta, lalu bergegas pergi meninggalkan warung pinggiran itu.

Kamu menarik keluar kertas yang terlipat rapi di saku kemejamu, mencoba membaca ulang kata-kata yang tadinya kau tulis dalam Hitam.

“Aku harus pergi, hidup tak ada gunanya lagi bagiku. Maafkan aku.

Selamat tinggal.”

Kali ini kamu ingin membacanya dalam Putih, memahaminya bersama Kelabu.

Namun mendadak kamu mendengar impuls pengirim sinyal dimulainya rencana Hitam-mu.

Gemuruh mesin pengangkut manusia dalam rupa ular naga mulai menggetarkan atap plastik biru warung pinggiran itu.

Kamu menunggu.

Diam menanti dalam Putih dan Kelabu.

Beberapa detik lagi mesin itu akan berada di depanmu.

Kamu bersiap, lalu melemparkannya tepat ketika angin malam yang dihempas mesin ular naga itu mulai menghantam tubuhmu.

Hingga ketika deru laju itu semakin menghilang, kamu mulai berjalan menjauhi warung pinggiran si penjual akal sehat.

Tak lagi kamu pedulikan kertas pengganti ragamu yang baru saja kamu lempar.

Bersama dengan senyum yang terulas, kamu mengemas syukur kepada-Nya.

Kamu berlari pulang, bercanda ria dengan langit hitam berhiaskan bintang putih dan bulan kelabu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s