Ketika Aku Lupa Bagaimana Caranya Tertawa

–untuk diikutsertakan dalam #ForYoungerMe

Untuk Aku

Di Masa Lalu.

Kata orang, masa lalu itu relatif.

Mungkin seharusnya aku menulis surat untuk diriku di TK, SD, SMP, SMU, kuliah atau tahun-tahun awal kerja misalnya.

Atau untuk diriku di usia tertentu.

Tapi aku setuju dengan kata orang, masa lalu itu relatif.

Aku yang mengetikkan huruf pertama tulisan ini termasuk aku di masa lalu.

Surat ini kualamatkan kepadaku, di masa lalu, di usia berapa pun.

Mungkin sedikit lucu kalau nostalgia justru melemparmu ke masa depan.

Dirimu di masa lalu yang dipenuhi angan masa depan, dan diriku di masa kini yang terhimpit dua masa, lalu diri kita di masa mendatang yang seharusnya merupakan manifestasi impianmu di masa lalu.

Kau nikmati sekelilingmu, keluarga dan teman yang setia menemani langkah kakimu ke mana pun kau putuskan untuk menancap jejak.

Ingin rasanya kau ciptakan sebuah pulau besar berisi mereka semua.

Berisi segalanya yang sempurna menurut mereka.

Gedung pencakar langit untuk ayah, adik dan teman-teman bekerja, rumah mewah untuk menampung seluruh keluarga, rumah sakit besar untuk para sejawatmu jika kamu berhasil jadi dokter suatu hari nanti.

Akan kau penuhi pulau itu dengan segala kemewahan yang dapat ditawarkan oleh dunia.

Seandainya kamu bisa menculik semua sahabatmu, akan kau tempatkan mereka dalam pulau sempurna di mana satu-satunya cara untuk mati adalah sambil tertawa bahagia.

Tapi seluruh pemikiran kekanakan itu tentu saja ditulis ulang oleh kenyataan tanpa seizinmu.

Kamu yang mulai sadar bahwa orangtuamu yang hangat tak mungkin menghabiskan lebih dari 50 tahun lagi bersamamu.

Semua saudara dan sahabat yang melangkah ke segala penjuru dunia tanpamu, meski mata dan hati mereka tak pernah lupa untuk setia padamu.

Mungkin, mungkin ide pulau sempurna itu merupakan ide paling brilian yang pernah kamu tetaskan di masa lalu.

Dulu kamu pikir, kamu harus cepat.

Sebelum kenyataan benar-benar menghisap mereka.

Menempatkan mereka bersamamu sebelum kita sadar hidup itu tidak mudah.

Bercanda tentang hal-hal konyol bersama mereka sebelum yang mereka perjuangkan dalam hidup hanyalah uang dan kekuasaan.

Kamu harus cepat, sebelum kamu dan mereka akhirnya lupa bagaimana caranya bergembira.

Sebelum mereka, yang dulu tak pernah kenal kata menyerah, akhirnya kalah tangguh melawan dunia.

Kamu harus segera mengumpulkan mereka ke dalam pulau besar itu, sebelum masa lalu milikmu tergilas realita.

Tapi itu dulu. Dulu sekali.

Kini, cetakbiru pulau besar sempurnamu itu perlahan mulai kabur dan berantakan dicoreti kenyataan.

Dulu, kenyataan merupakan musuh terbesar. Lawan yang tak mungkin sanggup kau kalahkan.

Kamu marah. Tidak setuju dengan cetakbiru yang ditawarkan oleh kenyataan.

Kamu ingin merobek-robeknya, bahkan mencoba menculiknya ke dalam Pulau Besar Sempurna agar ia paham bahwa cetakbirumu lah yang paling benar.

Tapi kamu adalah gadis yang hidup di dunia. Makhluk yang tak pernah putus untuk bertukar senyawa dengannya. Kamu harus sudi berbagi ruang dengan kenyataan.

Dulu, kamu bilang kenyataan bukanlah lawan yang sepadan. Namun dulu juga, entah mengapa, kamu akhirnya mengakui bahwa ia bukan lawan, namun teman.

Dulu, kamu katakan kepadaku, di usia berapa pun aku berada di masa depan, Pulau Besar Sempurna milikmu itu tidak akan pernah ada jika aku tidak menggandeng kenyataan dan mengajaknya untuk ikut menggoreskan hidup.

Dulu, kamu berjanji untuk selalu ingat, di masa mana pun kamu berada, kenyataan adalah teman untuk bertumbuh bersama. Teman yang memberimu kesempatan, teman tempat menitipkan keluarga dan sahabat, dan teman yang menghadirkan impian.

Kini, aku ingin mengatakan kepadamu, meski tidak seutopis masa lalu, Pulau Besar Sempurnamu masih ada (dan semoga akan selalu ada).

Kuharap kamu bersedia mengingatkan kembali saat aku mulai lupa bagaimana cara untuk tertawa, mulai lupa untuk terus menggandeng kenyataan, dan mulai lupa dengan Pulau Besar Sempurna kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s