Ini Bukan Judul Terakhir

untuk #15HariNgeblogFF, hari keempatbelas.

“PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!” pekik Nyonya Semilir.

Pasir terhenyak.

Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.

Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur akibat air mata.

Semua terasa begitu absurd.

Buih.

Dalam sekejap, aktris bau kencur itu merampas segalanya darinya.

Perhatian Nyonya Semilir, peran utama, bahkan sepasang mata teduh milik Ombak berhasil dipikat olehnya.

Aku bersumpah, drama ini bukan judul terakhirku. Buih harus kulenyapkan. Drama indah ini hanya milikku seorang, dan tidak boleh berakhir.

Kakak yakin?

Pasir terkesiap.

Cermin di depannya tidak lagi memantulkan bayangannya, melainkan sosok anak perempuan kecil berbaju pelaut. Kepalanya tertunduk.

Aku bisa menolong Kakak melenyapkan perempuan jalang itu. Aku juga akan membantu agar drama ini tidak pernah berakhir sebagai judul terakhir Kakak.

Anak dalam cermin itu mendongakkan kepalanya. Matanya bolong.

Pasir ingin berteriak, namun jeritannya teredam oleh tawaran anak perempuan itu.

Anak itu tersenyum, memerlihatkan sederetan gigi runcing berwarna darah.

Goreskan jepit rambut ini di meja rias perempuan jalang itu, lalu ucapkan: “Ini semua adalah milikku, dan tak boleh berakhir.”

Pasir mengambil jepit rambut hitam kecil yang terdorong keluar dari cermin di depannya.

Ia melangkahkan kakinya menuju meja rias Buih, bersiap melaksanakan perintah anak dalam cermin itu.

“Ini semua adalah milikku, dan tak boleh berakhir,” bisik Pasir.

Ia menorehkan satu goresan.

Keesokan harinya, Pasir mendapat kabar bahwa Buih mati kecelakaan.

Peran utama kembali ke pelukannya, perhatian Nyonya Semilir kembali terpusat kepadanya, tatapan mata teduh Ombak kembali menjadi miliknya.

Pasir tertawa puas. Segalanya sempurna. Semua telah menjadi kepunyaannya.

Drama ini tidak akan menjadi judul terakhirnya. Pasir tidak mengizinkan semua keindahan ini berakhir.

Ah, Kakak. Drama ini tidak akan menjadi judul terakhir Kakak, karena memang drama ini tidak akan pernah berakhir… seperti keinginan Kakak.

Pasir terbelalak.

Anak perempuan berbaju pelaut itu kembali muncul di cerminnya.

Semua sudah terlambat, Kak Pasir.

Pasir lari keluar. Berusaha menghindari sosok anak bermata bolong itu.

“Ada apa, Pasir?”

Pasir terkejut.

Mendadak Buih muncul di sebelahnya. Menyapanya. Bersiap-siap berlatih peran utama yang seharusnya dilakoni Pasir. Dipuji oleh Nyonya Semilir yang baru saja memuja Pasir. Ditatap mesra oleh sepasang mata Ombak yang semestinya terkunci pada Pasir.

“PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!” pekik Nyonya Semilir.

Pasir terhenyak.

Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.

Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur ———————————–

——————————————————–dan seterusnya————————–

———————————————————————————————————————————————–

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s