On Choices

Life is full choices, the simple ones and the uncommon ones.

Every day, you can choose to wear red or blue shirt to work, or you can choose to just stop going there, spend all your savings and travel around a world or open a little shop. You can rush to school in the morning so you won’t be late, or you can just quit school, ask your mama for a homeschool, or find a job. You can choose to go to any Sunday service time that suits you, or you can simply stop coming to church and change your religion instead. You can pick which hotel for the romantic getaways with your beloved one, or end your relationship there and now and just leave her/him hanging, rejected and crushed.

You continuously and deliberately chose your life every morning, out of fear or out of faith. So stop complaining that life is a monster and there’s nothing you can do about it. You are not obligated to choose the routines, the majority, the so-called normal life. You can choose your own way of living, and it is always subject to change. As long as you realize that free will is actually a blessing to choose to do what is right, at the very least, you will save yourself from unnecessary errs and consequences.

Advertisements

The Jakarta Post Writer’s Series 2017 Event

This weekend, I was fortunate enough to attend the Writer’s Series event held by The Jakarta Post Writing Center.

It was a two-days event, and the first day was a free whole day public seminar at The Kasablanka with many local and international speakers, such as M. Aan Mansyur and Endy Bayuni (The Jakarta Post Editor-in-Chief), Xu Xi, Robin Hemley, Lawrence Ypil, and Dai Fan, who were more than happy to share their thoughts and works on writing. Many topics were covered in this event, ranging from fiction to journalism to feminism.

During the “In the Works” section, the speakers shared their current/ upcoming/ best-selling works, and it was fun to hear stories, poems, memoirs being read to you directly by the authors. I really cannot tell which one was my favorite, because they were all nice and I am thinking of buying their books once they are available in the bookstores.

The second-day event featured premium workshops which are held at The Jakarta Post office and cost Rp 2.2 million per course. I was really lucky to get a free seat from Jakarta Book Club to attend a three-hour workshop on “Truth and Fiction” by Xu Xi and Robin Hemley.

Jpeg
 

Robin was in charge for the first section. The first exercise was a sensory visual observation activity. He instructed us to close our eyes and, after that — while our eyes were still closed — he asked us to describe all the things inside our discussion room. It was interesting to know that many of us can remember the details of the room, for instance, the size of the room which was quite small and the low, waffle-like ceiling.

The second exercise from Robin was to write about a real photograph that we see a lot every day and a notable memory we had in the past. We need to write down about the photograph and the memory as clear as possible, read it out loud to others, and let them guess whether the story was based on a memory or a photograph. You did well if you can fool the audience. The trick is how to play with the details and the way you embed your emotions into the writings to make it as detailed as a photograph — although it was a memory — and as emotional as a memory — even though it was actually a flat photograph.

Xu Xi led the second section and she asked us to write down about the story of our life in 150-200 words, describing who we are, a remarkable event in our life, why that event was memorable, and the place where the event happened. Everything must be factual.

In the last exercise, Xu Xi shared “4 Ps” in writing:

  • Person(s)
  • Plot
  • Perspective (the “why” of the story)
  • Place

Later on, she instructed us to fictionalize our factual story by changing any of the “Ps” and see how it changed the whole thing. The easiest one was to change the “Person” element, and if you changed the “Plot”, you really need to rewrite the whole story, but that what makes writing so interesting.

I have learned a lot of new things from the public seminars and especially from the workshop — too bad it was only 3 hours! I am looking forward to attending other events hosted by The Jakarta Post Writing Center. Thank you very much to Jakarta Book Club for the opportunity to attend the fantastic workshop!

That Tiny Dent

That tiny dent which pokes me out of boredom and regularity.

It pokes pokes pokes and then it broke broke broke.

(I’m bored with the word “shattered into pieces”. How about:)

It annihilates, scatters back and forth in time, like fresh photons and positrons.

And then there were none.

But that could be untrue, if there was nothing to begin with.

Tentang BPJS

Berikut beberapa fakta yang saya temukan saat mengurus dan menggunakan BPJS.

Pros:

  • Menanggung hampir semua penyakit dan rentang usia, termasuk calon bayi.
  • Petugas sangat berempati dan fleksibel, termasuk saat mengurus surat-surat yang tidak berbentuk hardcopy. Saat diminta, mereka bersedia membantu melayani surat-surat dalam bentuk softcopy.
  • Metode pembayaran yang cukup banyak dan bervariasi.
  • Bisa pindah Faskes yang dekat dengan tempat tinggal.
  • Para dokter yang tidak membeda-bedakan pasien tunai maupun BPJS, bahkan menawarkan para pasien untuk menggunakan BPJS ketika muncul keluhan mengenai biaya.
  • Penggunaan BPJS yang mudah, hanya tinggal membawa fotokopi KIS, KTP dan surat rujukan.

Cons:

  • Kurangnya informasi mengenai perlunya fotokopi KK untuk mencetak Kartu Indonesia Sehat (KIS).
  • Tidak adanya informasi bahwa BPJS hanya dapat dipakai satu kali saja dalam sehari.
  • Saat ingin membuat rujukan, pasien yang memiliki keluhan serius tidak akan ditangani, karena diminta untuk memilih apakah saat itu datang berobat untuk membuat rujukan atau ingin diperiksa keluhannya. Tidak bisa membuat rujukan sekaligus memeriksakan keluhan (namun hal ini tidak terjadi di Puskemas).
  • Waktu antri pembuatan KIS adalah 6 jam. Saat loket sudah akan tutup, ditanyakan siapa saja yang namanya belum dipanggil. Nama-nama yang belum dipanggil itu kemudian secara berkelompok langsung dibuatkan KIS yang ternyata selesai dalam waktu sepuluh menit saja.
  • Obat simvastatin tidak ditanggung, sementara di Formularium Nasional 2016 obat tersebut seharusnya ditanggung oleh BPJS.
  • Tidak semua dokter spesialis konsultan dapat menangani pasien BPJS.
  • Pemeriksaan gigi tidak dilakukan secara menyeluruh, hanya dilihat area yang penting saja.

Jika dilihat dari data di atas, benefit BPJS sangat besar dan cocok untuk digunakan ketika terjadi keadaan gawat darurat. Sumber daya manusianya pun sangat bagus dan memiliki keinginan untuk membantu.

Namun, BPJS memiliki kendala yang sangat besar di bidang operasional, sehingga menyebabkan kerugian waktu dan justru menyebabkan sakit fisik akibat terlalu lama menunggu (nyeri otot dan hipertensi, yang sungguh-sungguh terjadi berdasarkan cerita orang-orang yang saat itu mengantri dengan saya).

Saya sangat mendukung program ini, karena sangat membantu saya, keluarga dan juga kerabat lainnya. Semoga untuk ke depannya operasional BPJS dapat lebih ditingkatkan lagi karena manfaatnya sangat terasa untuk pasien dan keluarga.

Catatan: Cons yang saya tuliskan di sini kemungkinan berkaitan dengan kebijakan Faskes pilihan saya, dan mungkin tidak berhubungan dengan kebijakan BPJS, sehingga mungkin tidak terjadi di Faskes lainnya.

 

 

Pangeran Luwak dan Prajurit Kopi

Cerita pendek ini memenangkan perlombaan fiksi dengan tema kopi yang diselenggarakan oleh Giordano dan nulisbuku.com

Kutarik selimutku sampai ke dagu, memejamkan mata erat-erat, lalu berpura-pura tidur. Hari ini hari Kamis, dan Ibu sebentar lagi datang ke kamarku untuk menceritakan cerita hantu. Aku suka cerita hantu.

Aku menarik napas perlahan sambil mempertahankan posisiku. Begitu Ibu masuk, aku akan mengagetkannya. Kali ini giliranku yang membuat Ibu kaget. Aku terkikik pelan, namun aku teringat sesuatu. Ibu biasanya membawakanku secangkir susu cokelat hangat dan kue bolu manis kesukaanku. Nanti kalau Ibu kaget, semuanya jatuh lalu berantakan. Bukan ide yang bagus.

Dalam sekejap kubatalkan rencanaku itu dan memutuskan akan langsung memeluk Ibu setelah ia selesai meletakkan susu dan kue di atas meja belajar. Aku tersenyum senang, namun suara langkah kaki Ibu membuatku langsung mengatupkan mulut rapat-rapat.

Kudengar pintu kamarku perlahan terbuka, pertanda sebentar lagi susu cokelat hangat kesukaanku akan segera datang. Tapi ada yang aneh. Bukan aroma susu cokelat hangat yang menyerbu hidungku, namun justru wangi kopi kegemaran Ibu.

Aku ingin sekali membuka mata, namun aku tetap menunggu Ibu mengecup keningku, sesuatu yang selalu ia lakukan setiap kali ia akan memulai cerita. Aroma kopi itu bertahan di sebelahku, namun Ibu tidak juga mencium dahiku. Aku tak dapat menahan diri dan akhirnya kubuka mataku pelan-pelan. Tidak ada Ibu. Hanya ada anak-anak kecil yang tidak kukenal. Aku menahan napas.

“Dia bangun,” bisik seseorang. Suara anak laki-laki.

“Benarkah?” tanya seorang anak perempuan.

Aku merasakan aroma kopi yang sangat tajam memenuhi seluruh hidungku dan akhirnya aku bersin.

“Gayo! Apa yang kamu lakukan?” pekik anak perempuan di sebelahnya.

“Aku hanya ingin menepuk bahunya!” balas Gayo sengit.

Aku membuka mata lebar-lebar. Gayo, anak laki-laki di dekatku menatapku ketakutan. Kamarku semakin dipenuhi bau kopi pekat yang disukai ibuku. Di mana Ibu?

“Wamena, aku tidak bermaksud membangunkannya! A-aku-“ Gayo terbata-bata, sementara Wamena, anak perempuan di sebelahnya, ternganga.

“Toraja! Lihat, ia su-“ bisik Wamena. Ia terdengar antusias dan aku dapat mencium sedikit aroma cokelat yang terpancar darinya.

“Iya, aku tahu,” potong Toraja yang berdiri di belakang Wamena. Ia langsung menggeser Wamena dan memelototiku. Anak laki-laki yang ini beraroma seperti rempah-rempah dapur yang sering dipakai ibuku untuk memasak. Aku membuka mulut untuk berbicara, namun langsung terbatuk-batuk.

“Kalian semua membuatnya takut,” seorang anak perempuan lain langsung maju ke hadapanku. “Jadi begini, Kintamani, kami-“

Kepalaku pusing.

“…mengerti?” tanya anak perempuan dengan wangi kopi manis di depanku.

“Apa?” tanyaku bingung.

“Sudahlah, Bajawa. Dia pasti bingung,” sahut Wamena.

“Oke, begini. Aku ulangi sekali lagi. Kami Prajurit Kopi dari Negeri Nusantara. Kami ingin meminta bantuanmu untuk mencari pangeran kami, Luwak. Ia menghilang sejak tadi pagi. Negeri kami akan hancur jika Pangeran Luwak tidak menggunakan kekuatannya untuk menopang negeri kami. Lihat, kami juga sudah meminta izin dari ibumu. Jadi kamu tidak perlu khawatir,” ucap Bajawa. Ia menyodorkan secarik kertas berisi tulisan yang mirip sekali dengan tulisan Ibu.

Kintamani sayang, tolong bantu para Prajurit Kopi mencari Pangeran Luwak, ya. Ingatlah, hanya kamu yang tahu di mana Pangeran Luwak berada. Kalau kamu berhasil membantu mereka, Ibu punya kue taart cokelat untuk kamu. Peluk cium, Ibu.

Aku langsung terduduk di pinggir tempat tidurku. Para Prajurit Kopi di dekatku langsung berhamburan namun segera mengatur posisi dan membentuk barisan rapi.

“Dia pasti tahu sesuatu,” bisik Toraja.

“Apakah kamu mengenal Pangeran Luwak?” tanya Wamena hati-hati.

Luwak. Ya, aku tahu Luwak. Tetapi mengapa aku sulit mengingatnya?

“Aku… sepertinya aku tahu. Tapi…” Pelipisku berdenyut.

Bajawa sudah nyaris mengeluarkan suara namun dipotong oleh Wamena. “Sebentar. Beri ia waktu untuk mengingat-ingat.”

“Tapi Jenderal Mandheling hanya memberikan kita waktu enam puluh menit di sini!” ucap Gayo panik. “Sekarang hanya tersisa empat puluh lima menit!”

Aku teringat Ibu. Saat itu ia memberikan hadiah ulang tahun untuk Ayah. Biji-biji kopi. Ayah tertawa lebar dan langsung mengajakku menggiling kopi bersamanya di dapur. Ini kopi Luwak, kata Ayah sambil tersenyum.

“Kintamani, apakah kamu mengetahui sesua-“ Kata-kata Bajawa terputus.

“Di dapur!” jeritku sambil melompat dari tempat tidur dan setengah berlari menuju pintu kamar. Barisan Prajurit Kopi mengekorku dengan sigap.

Kami segera menuju mesin kopi besar yang selalu dipakai oleh orang tuaku. Di sebelahnya tersimpan rapi wadah berisi biji-biji kopi yang setiap pagi diolah oleh Ibu.

“Hei, lihat, aku terkenal di sini,” ucap Gayo bangga. Ia menunjuk wadah biji kopi bertuliskan “GAYO” yang lebih besar dari wadah-wadah lainnya. Label nama kopi tersebut sudah separuh hilang karena terlalu sering dibersihkan oleh Ibu. Ibu memang paling menyukai kopi Gayo.

“Ini bukan saatnya pamer, Gayo!” desis Toraja kesal. Namun kulihat matanya memelototi wadah biji kopi bertuliskan “ SULAWESI TORAJA” di ujung meja. Ia juga menggumamkan kata-kata ‘Hormat, Jenderal’ saat ia melihat wadah biji kopi bertuliskan “SUMATRA MANDHELING”.

Bajawa sibuk membaca wadah-wadah biji kopi satu per satu. Ia tersenyum senang saat menemukan wadah biji kopi bernama “FLORES BAJAWA” di sebelah “PAPUA WAMENA”.

Wamena terkesiap. “Bagaimana ini…” ucapnya lirih. Ia menggenggam wadah biji kopi berukuran kecil dengan tulisan “LUWAK” yang sudah kosong.

Bajawa langsung menyambar wadah itu, membukanya lalu berusaha mengais isinya dengan sekuat tenaga hingga di pojok wadah. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak tersisa satu petunjuk pun.”

Gayo cemas. Wamena berpikir keras. Toraja masih mencari-cari wadah biji kopi lain.

“Mungkin kamu punya petunjuk lain, Kintamani?” tanya Bajawa. Waktu mereka sepertinya tersisa kurang dari tiga puluh menit.

Aku duduk di kursi ruang makan sambil mencoba mengingat-ingat tentang Luwak. Aku ingat kalau Ibu bilang Luwak itu hanya untuk acara spesial. Biji kopi Luwak untuk merayakan ulang tahun Ayah. Ke perkebunan kopi Luwak untuk merayakan ulang tahun Ibu.

Ibu juga punya Luwak untuk Kintamani, bisik Ibu.

Ibu, aku kan belum boleh minum kopi, kataku.

Ibu tersenyum. Tunggu ulang tahunmu ya. Ibu akan berikan Luwak untukmu.

Aku beranjak dari dapur menuju sofa di depan TV besar milik Ayah. Tempat Ibu memberikan hadiah ulang tahun untukku. Para Prajurit Kopi mengikutiku dengan penuh rasa ingin tahu.

Aku berputar-putar di depan TV sampai akhirnya aku melihat ruang kerja Ibu yang berisi mesin jahit. Di sekelilingnya penuh kain warna-warni dengan pakaian-pakaian indah dan boneka-boneka lucu.

Ini, Luwak untuk Kintamani. Ibu tertawa riang saat aku meloncat-loncat kegirangan dan merebut Luwak dari tangan Ibu lalu memeluk boneka itu erat-erat.

Aku membalikkan badan menghadap para Prajurit Kopi seraya mengucapkan pengumuman penting.

“Aku sudah tahu Luwak ada di mana,” kataku mantap.

Para Prajurit Kopi langsung ribut dan memintaku untuk segera mengantarkan mereka ke tempat Luwak berada. Waktu mereka tinggal lima belas menit. Aku memberikan aba-aba agar mereka mengikuti dan mereka membuntutiku dengan patuh.

Ibu… Luwak jadi kotor… Maaf. Aku berkata lirih sambil menyodorkan Luwak yang terkena tumpahan susu cokelat tadi pagi. Ibu hanya tersenyum saat aku berusaha menjelaskan kejadian yang menimpa Luwak.

Lain kali hati-hati ya. Kalau lagi minum, Luwak ditaruh dulu. Ibu memberikan nasihat sambil mengambil Luwak malang yang kini basah dan lengket dari tanganku.

Aku sedang menuju ruang cuci baju ketika tiba-tiba para Prajurit Kopi berlutut. “Hormat, Yang Mulia.” Dengan serempak mereka mengucapkan salam.

Aku membalikkan badan dan melihat seorang anak laki-laki gagah dengan pakaian megah berwarna hitam dan cokelat. Ia memancarkan aroma kopi paling sedap yang pernah kutahu.

“Toraja! Wamena! Bajawa! Gayo!” teriak Pangeran Luwak. Air mukanya cerah sekali. Para Prajurit Kopi menatapnya senang. “Aku pikir aku tersesat.” Ia langsung memeluk para Prajurit Kopi satu per satu. “Aku sedang mencari Jenderal Mandheling ketika aku terpeleset lalu tercebur di Danau Susu Cokelat. Entah mengapa aku tenggelam dan tiba-tiba muncul di tempat ini. Untung saja aku menemukan mesin untuk membersihkan diri.” Pangeran Luwak menunjuk ke arah mesin cuci milikku. Aku melongo.

“Ah! Kintamani! Terima kasih untuk ibumu yang sudah meminjamkan mesin itu untukku. Kamu juga sudah menolong para Prajurit Kopi untuk menemukanku. Atas nama Negeri Nusantara, kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.” Ia membungkuk sopan. Para Prajurit Kopi juga membungkuk dalam-dalam.

Pangeran Luwak lalu memberiku segenggam penuh biji kopi. Aku ragu menerimanya. Ibu pernah menceritakan kepadaku dari mana biji kopi Luwak berasal. Mukaku mengerut dan Pangeran Luwak tertawa terbahak-bahak. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Kintamani. Tenang saja, ini biji kopi yang kutanam sendiri di kebunku. Anggap saja ini biji kopi Luwak ajaib.”

Aku pun menerima hadiah darinya dengan riang gembira. Ibu pasti senang menerima biji kopi ajaib.

“Ayo, kita pulang,” ajak Bajawa. “Waktu kita tinggal lima menit.”

Aku, Pangeran Luwak dan Prajurit Kopi pun berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamarku.

“Bagaimana cara kalian kembali ke Negeri Nusantara?” tanyaku setelah duduk di tempat tidur.

“Sama seperti saat kamu melihat kami datang,” jawab Wamena. “Berbaringlah dan pejamkan mata erat-erat.”

“Baiklah.” Aku menuruti kata-kata Wamena dan mulai berbaring. Aku sedang menutup mata saat aku menyadari sesuatu. Mataku langsung terbuka lebar dan memandangi mereka. “Tapi aku masih bisa bertemu kalian lagi, kan?”

“Tentu saja, Kintamani. Selama ada kopi di dekatmu, kami selalu dapat bermain denganmu.” Pangeran Luwak mengecup pipiku. Aku tersipu dan langsung memejamkan mata erat-erat.

“Sampai bertemu lagi, Kintamani!” Pangeran Luwak dan para Prajurit Kopi pun mengucapkan salam perpisahan.

“Sampai bertemu lagi, Pangeran Luwak, Gayo, Wamena, Toraja, Bajawa!” balasku dengan mata tetap tertutup rapat. Aroma kopi yang harum semerbak pun langsung memenuhi kamarku. Aku tersenyum.

Aku membuka mata ketika seseorang mengecup keningku.

“Ibu?” tanyaku bingung. Tidak ada Pangeran Luwak. Tidak ada Prajurit Kopi.

“Ada apa, Kintamani?” tanya Ibu sambil menyodorkan mok berisi susu cokelat hangat dan menyuapkan kue taart cokelat untukku.

“Aku mimpi kopi,” jawabku pendek sambil mengunyah kue lezat buatan Ibu.

Ibu tersenyum lembut sambil memberikan boneka Luwak yang sudah dicuci bersih. “Kamu pasti sedih karena tadi Luwak kotor terkena susu cokelat.”

Aku langsung memeluk Luwak erat-erat. “Sekarang Pangeran Luwak sudah bersih dan ia bersama Prajurit Kopi sudah pulang dengan selamat ke Negeri Nusantara.”

Ibu mengernyitkan keningnya namun tetap tersenyum. Ia mengambil cangkir kopi miliknya. Aroma yang kini sangat kukenal memenuhi hidungku.

“Ibu, Gayo bangga sekali ketika ia tahu Ibu paling suka kopi Gayo,” kataku.

“Wah, kamu tahu ini kopi Gayo?” Ibu tertawa.

“Iya, harumnya sama seperti temanku si Prajurit Kopi bernama Gayo.” Kuceritakan mimpiku secara lengkap dan terperinci. Ibu tak henti-hentinya tersenyum, kemudian terperangah saat aku mengeja nama-nama kopi Negeri Nusantara, lalu tergelak saat kukatakan aku menemukan Pangeran Luwak di dekat mesin cuci.

Aku yang mulai terlelap sudah tidak mendengar lagi kata-kata Ibu ketika ia menceritakan tentang biji-biji kopi lainnya. Di tengah hangatnya aroma kopi Gayo, aku hanya ingat saat Ibu membetulkan posisi Luwak di pelukanku, membisikkan selamat tidur, lalu terlihat sedikit bingung ketika kuberikan segenggam biji kopi ajaib untuknya.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

 

Because Nothing Else Mattered

While I may, I sail East in Dawn Treader.

When she fails me, I row East in my coracle.

When that sinks, I shall paddle East with my four paws.

Then, when I can swim no longer, if I have not yet reached Aslan’s Country,

there shall I sink with my nose to the sunrise.

Reepicheep – Chronicles of Narnia

Paradox of Divinity

A death that radiates love.
An emptiness that brings happiness.
A lost that secures eternal companion.
A return which shows that no familiar moment will ever be seen again.

When gain means lost, and vice versa.
When staying low means reaching the top, and standing tall means downfall.
When common wisdom equals idiocy.
When good deeds resemble foolishness.

I humbled my pride.
I killed my murder intention.
I bid farewell to myself to greet the real me.

And so, hello.
Welcome to the life where everything is wrong, and that, ironically, is the sole truth.

SCBD – Cinere muse

Power

Some say power is when you are able to destroy someone and completely sure that he stays that way permanently.
Scratch destroy. I meant overkill.
Crush his body, crush his reputation, crush his loved ones, and there you have it. Overkill with ice cream on top.

But in my opinion, that kind of power is extremely fragile.
That power only exists by the help of someone whom you overkilled.
Embarrassing, I must say.

So, what determines power?
Choice.
You are powerful only if you are aware that there’s actually an option to overkill or not.
Which, by the way, usually ends up with you not overkilling someone.

And why is that?
It’s because you rule the fate of that person, and your own fate as well.

Nothing could be ever more satisfying than having a direct control over two people at the same time.

That, if by any chance you already mastered it perfectly, I must say it proudly, you are a truly powerful person.

Pondok Indah – SCBD muse

Clandestine

Ada kesah tanpa keluh.
Dibalut gulita yang tak menggelap.

Ada juga benderang yang tidak diawali terang.
Dilapis manis yang bukan terurai dari gula.

Ada pula cacat tanpa didahului jejas.
Dikerat tajam oleh lembutnya hati.

Ia berhenti.

Ia ingin mengucap.

Tapi jawabnya tidak memiliki pertanyaan.

Lalu ada sia-sia.

Maka ia terpejam.

Luruh.

Life

One life to live … but which one?

People say, “Live for yourself.” When others live that way, what does that do to their relationship with you?

“Be true to yourself.” What if your “self” is a mess? Is there something larger than oneself – something, or better, someone, really worth living for?

Many live for their dreams. But if dreams fail, where do they turn?

People say, “Follow your heart.” How can you follow a heart that is shattered? Do you find that your feelings become confused? Can we look beyond ourselves to something more dependable than being “only human”?

Life spills away like water. What’s the purpose? To feed a body that just dies too soon? Is there more to reality than this surface view?

People say, “Follow our religion.” Yet, for many, their choices were made for them. They were born into the beliefs where they happen to live and learn. They haven’t actually reached their own conclusions.

What if they had been born in another place with different ideas? They would respect those other beliefs. But would that make them true or good?

Quoted from WBS – One Life to Live